SELAMAT DATANG, SEMOGA ADA ILMU YANG BERMANFAAT

Rabu, 02 November 2011

MEMBUAT AMONIASI JERAMI

            Jerami merupakan salah satu sumber hijauan bagi ternak ruminansia yang berasal dari sisa hasil pertanian.  Jerami pada umumnya kurang disenangi oleh ternak apabila diberikan secara langsung begitu saja tanpa adanya penambahan bahan lain sebagai campuran, selain itu jerami sangat sulit dicerna oleh alat digestion ternak karena tersusun oleh selulosa, hemiselulosa dan lignin sebagai penyusun utama, sehingga efisiensi penyerapan nutrisi jerami sangat rendah.

            Untuk meningkatkan efisiensi tersebut perlu adanya proses yang bisa memecah rantai selulosa, hemiselulosa dan lignin sebagai bahan dasar dari jerami menjadi lebih kecil permukaannnya, sehiingga pemanfaatan jerami oleh alat pencernaan ternak lebih meningkat.  Dalam upaya meningkatkan efisiensi jerami tersebut  berbagai cara telah diterapkan di lapangan dan salah satu metode yang praktis dan mampu  meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi jerami tersebut adalah dengan cara fermentasi jerami atau amoniasi jerami.
            Amoniasi jerami merupakan suatu metode pengolahan jerami dengan memanfaatkan kerja gas amonia (NH3) yang berasal dari  sumber amonia (urea) yang dapat memecah ikatan selulosa, hemiselulosa dan lignin sehingga jerami lebih mudah untuk dicerna.
A.   Alat dan Bahan
Alat :
·         Mesin pencacah (cooper atau parang)
·         Pelastik besar kedap cahaya (berwarna hitam)
·         Tali pengikat
·         Timbangan
·         Ember
Bahan :
·         Jerami Kering      : sesuai dengan kebutuhan
·         Urea                       : 6% dari volume air
·         Air bersih secukupnya
B.   Cara Pembuatan
·         Sediakan jerami sesuai dengan keperluan dan dibersihkan dari kotoran.
·         Keringkan jerami hingga kadar air  kurang dari 20% sampai 10% dapat dilihat dari fisik jerami yang menguning.
·         Jerami dicacah atau dipotong-potong sepanjang 5-10 cm.
·         Kemudian timbang jerami.
·         Buat larutan urea 6% dari volume air yang disediakan.
·         Masukan jerami sedikit demi sedikit sambil disiram dengan larutan urea lalu dipadatkan (untuk 1 Kg jerami diperlukan 1 liter larutan urea atau 60 gr/liter air).
·         Setelah plastik penuh ikat rapat-rapat  dan simpan plastik di tempat kering dan terlindung dari hujan dan sinar matahari secara langsung.
·         Setelah 21 hari amoniasi dapat diberikan keada ternak.
·         Pada saat membuka tutup plastik harus berhati-hati karena menimbulkan gas amoniak yang berbahaya bila terhirup.
C.   Cara Pemberian Pada ternak
·         Sebelum diberikan pada ternak amoniasi jerami terlebih dahulu diangin-anginkan dengan tujuan mengurangi gas amoniak yang dihasilkan pada saat fermentasi.
·         Dalam memberikan amoniasi kepada ternak harus diimbangi dengan pemberian konsentrat yang berenergi tinggi untuk mencegah terjadinya keracunan akibat gas amoniak, perbandingan antara amoniasi jerami dengan konsentrat yaitu 70% : 30% (70% jerami amoniasi dan 30% konsentrat).
·         Untuk ternak perah dianjurkan agar amoniasi diberikan setelah ternak diperah.
·         Dalam pemberian amoniasi ternak harus dibiasakan terlebih dahulu dengan cara bertahap.

 
Sumber :

Balai Besar Diklat Agribisnis Peternakan dan Kesehatan Hewan Cinagara, Bogor. 2005.






























BUDIDAYA JERUK BESAR


PENDAHULUAN

Jeruk Besar (Citrus maxima) atau pomelo termasuk dalam famili Rutaceace.  Asal jeruk besar belum jelas namun sudah menyebar dan dikenal masyarakat di Asia Tenggara.
Jeruk besar mengandung vitamin C cukup tinggi yaitu 43 mg, vitamin A = 21 SI, Kalsium = 23 mg dan kalori = 48 kal dalam 100 gram jeruk besar.  Karena mengandung Vit. C dan A cukup tinggi, maka jeruk besar mampu mencegah rabun senja dan sariawan.
Disamping Indonesia, negara lain penghasil jeruk besar adalah Thailand, Malaysia dan Vietnam.  Varietas jeruk besar yang direkomendasi untuk dibudidayakan adalah Cikoneng ST,  Bali Merah, Pomelo Raja, dan Pomelo Nambangan.  Sentra produksi jeruk besar di Indonesia baru terdapat tiga Provinsi.

Tabel 1.   Sentra Produksi Jeruk Besar di Indo-nesia

No.
Provinsi
Kabupaten/
Kecamatan
Luas
Lahan
(Ha)
Produksi
Musim Panen Raya
1
Jawa Barat
Sumedang :
1.Sumedang
Selatan
90
450
2
2
Jawa Timur
Magetan :
1.Sukomoro
2.Bendo
3.Takaran
4.Kawedana

157
167
141
72

7.904
2.016
5.076
1.728

4 – 6
4 – 6
4 – 6
4 – 6
3
Bali
Karang Asem
1.Kareng Asem
32
46
7 – 8
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang

SYARAT TUMBUH
            Jeruk besar tumbuh pada ketinggian kurang dari 400 meter dpl.  Pada ketinggian lebih dari 400 meter dpl masih dapat tumbuh dan menghasilkan buah, akan tetapi tidak maksimal.  Membutuhkan curah hujan 1.000-1.500 mm/ tahun dengan musim kering 4 – 7 bulan.  Jeruk besar tidak terlalu tahan terhadap genangan air, oleh karena itu diperlukan drainase yang baik. Membutuhkan keasaman tanah (pH) 5 – 6.

PERBANYAKAN  TANAMAN
            Perbanyakan tanaman melalui okulasi, dengan cara memilih mata entres yang besar, berasal dari cabang yang sudah berumur 1 tahun. Pengambilan entres dilakukan dengan membuat irisan agak lengkung horizontal di atas mata sepanjang 1 cm, kemudian kedua ujung irisan dibuat irisan vertikal ke bawah sepanjang 2,5 cm. Entres selanjutnya ditempel pada semai batang bawah, kemudian dibalut dengan tali raffia usahakan bagian mata tidak tertutup.

PENANAMAN
            Buat lubang tanam dengan ukuran 60x60x60 cm. Saat penggalian lubang, tanah lapisan bagian atas diletakan sebelah kanan dan lapisan bagian bawah ke sebelah kiri.  Sebelum tanam tanah lapisan atas dimasukkan, terlebih dahulu dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 35 Kg, Urea 100 gr, TSP 100 gr, dan KCL 100 gr.  Lubang tanam dibiarkan terbuka selama 1 – 2 minggu.  Jarak tanam yang ideal untuk jeruk besar adalah 7 x 7 meter.

PEMELIHARAAN

a.      Pemupukan
Dosis pemupukan jeruk besar sebaiknya disesuaikan dengan umur tanaman. Pedoman umum pemupukan tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2. Dosis Pemupukan Tanaman Jeruk Besar yang Direkomendasikan Sesuai dengan Tanaman

Umur
Tan.
(Thn)
Pupuk
Kandang
(blek)
Urea
(gr/phn)
TSP
(gr/phn)
KCL
(gr/phn)
1
1
200
450
400
2
3
400
650
650
3
6
600
1.000
1.000
4
6
800
1.000
1.000
>5
6
1.000
550
850
     Sumber : BPP Sukomoro, Magetan

            Cara pemupukan dengan membuat galian melingkar pada seputar pohon yang disesuaikan  dengan tajuk terluar.  Kemudian taburkan pupuk tersebut  pada galian dan ditutup tanah.
            Waktu pemupukan, dilakukan 2 kali setahun yaitu setengah dosis sesudah panen dan setengah dosis lagi menjelang berbunga.

b.      Pengairan
Pada awal tanam tanaman perlu penyiraman setiap hari dan diusahakan sebanyak 50 liter/m2/bulan. Penyiraman selanjutnya dilakukan 1 – 2 kali seminggu dimusim kemarau, terutama pada saat musim hujan, maka harus dibuat drainase yang baik karena tanaman jeruk besar tidak tahan terhadap genangan air.

c.       Pemangkasan
Bertujuan untuk membentuk tajuk tanaman yang baik, merangsang pembungaan dan mencegah terserang penyakit, serta merangsang pertumbuhan tunas baru.  Bagian-bagian tanaman yang dipangkas adalah cabang air, cabang yang tumbuh liar, ranting daun dan buah yang terserang penyakit,  dahan dan buah yang rusak, dahan yang bergeser satu sama lainnya, dan yang tumbuh ke dalam, dan dahan yang lemah.

Pengendalian Hama dan Penyakit

1. Hama

a.      Hama Penggerek Buah (Citripestis sagittiferella)
Gejalanya buah kelihatan berlubang-lubang dengan kotoran berupa getah yang menggelantung. Lama-kelamaan ditengah gantungan getah terjadi pembusukan dan akhirnya buah rontok.  Pengendaliannya membungkus buah muda dengan kertas, buah yang sudah terserang secepatnya dipetik, lalu dibakar.  Penyemprotan tanaman dengan insektisida Bayrusil dengan dosis 1 liter/ha, dengan volume semprotan sekitar 500-600/liter/ha.

b.      Hama Sisik Hitam (Parlatoria zizypnus)
Gejalanya tunas, daun dan bagian lain dari tanaman jeruk seperti dilekati oleh sisik bulat hitam yang mengeras.  Begitu eratnya lekatan tersebut sehingga sangat merusak tanaman jeruk.  Pengendaliannya dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida Supracide 40 EC bahan aktifnya metydation dengan konsentrasi    2 ml/liter air setara dengan dosis 1 – 1,6 liter dalam 500 – 800 liter air/ha.

c.       Hama Parlatoria pergandii Comst
Gejalanya daun dan buah seperti tertutup sisik yang memanjang, hingga warnanya menguning, sedangkan dipermukaan daun tampak bercak kuning.  Kemudian daun menjadi kering dan rontok.  Pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida Diazinon dengan konsentrasi formulasi 2 ml/liter air setara dengan 1 – 1,6 liter dalam 500 – 800 liter air/ha.

2. Penyakit

a.      Penyakit Blendok Diplodia Basah
Gejalanya batang atau cabang-cabang besar mengeluarkan blendok (gom), yang berwarna kuning emas.  Pada serangan yang berat kulit luka-luka tidak teratur, luas dan tidak dalam, disamping juga dicirikan oleh perubahan warna kayu menjadi hijau sampai hitam.  Cabang yang terserang berat sebaiknya dipotong saja.  Sedangkan pengobatan yang sedang dikembangkan yaitu dengan mengoleskan bubur bordo 5 – 10 %.

b.      Penyakit Blendok Diplodia Kering
Gejalanya batang yang terserang kulitnya mengering. Kulit yang terserang jamur ini membentuk celah-celah kecil, kemudian dari dalam celah keluar massa spora yang semula putih kemudian berangsur-angsur menjadi hitam.  Pengendaliannya sama dengan jamur Blendok Diplodia Basah.

PANEN

            Jeruk besar baru bisa dipanen setelah berumur 6 – 8 bulan setelah bunga mekar.  Saat panen ditentukan dari ciri fisik buah.  Pemetikan paling baik dilakukan tepat pada kematangan buah yang kulit berwarna hijau kekuning-kuningan, bulu halus pada kulit buah sudah hilang, buah jeruk termasuk berat, lekukan buah sudah datar dan bila dikupas bagian tengahnya sudah berlubang.
            Pemetikan sebaiknya dilakukan dengan tangan  atau gunting pangkas.  Dengan cara buah dipegang kemudian diputar lalu menariknya kebawah hingga lepas dari tangkainya.  Setelah buah dipetik sebaiknya tangkai diletakkan ke bawah untuk mengeluarkan getahnya.



Sumber :
Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan
 Kabupaten Sumedang
2007











Selasa, 01 November 2011

Budidaya Sapi Potong


I.     PENDAHULUAN
Seiring dengan bertambahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makan makanan bergizi, terutama protein hewani yang diperoleh dari daging ternak maka akan berpengaruh pada meningkatnya permintaan pasar akan daging. Kebutuhan akan daging sangat bergantung pada usaha peternakan, khususnya ternak sapi. Karena sapi adalah ternak penghasil daging terbesar yang sudah sangat umum dikonsumsi masyarakat.
Usaha pembibitan sapi adalah dasar/awal dari rangkaian usaha sapi potong. Bila tidak ada bibit, maka usaha penggemukkan sapi pun tidak akan bisa berjalan dengan lancar. Bila usaha penggemukkan sapi tidak lancar, maka akan berdampak pada kurangnya supply daging bagi masyarakat. Pemerintah sudah mengantisipasi kondisi kurangnya daging sapi untuk kebutuhan dalam negeri dengan mengeluarkan kebijakan import sapi ataupun daging sapi dari luar negeri. Dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut, maka sejak tahun ’90-an muncul trend baru dikalangan peternak besar. Kandang-kandang di peternakan besar dijejali oleh rombongan sapi-sapi import. Negara pemasok sapi terbesar bagi Indonesia adalah Australia. Bukan saja menjadi pemasok sapi ke Indonesia, Australia adalah negara peng-eksport sapi terbesar sedunia.

Mengenal Bangsa Sapi
Mengenal karakteristik bangsa sapi potong yang dipelihara merupakan syarat yang dimiliki pengusaha sapi potong karena setiap bangsa sapi memiliki ciri khas tersendiri sehingga memerlukan penanganan yang berbeda. Beberapa jenis sapi yang biasa digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia sebagai berikut:

a.  Sapi Bali 

 Merupakan sapi lokal dengan penampilan produksi yang cukup tinggi. Penyebaran telah meluas di seluruh Indonesia, meskipun masih tetap berkonsenterasi di Pulau Bali. Sampai saat ini kemurnian genetis sapi bali masih terjaga karena ada undang-undang yang mengatur pembatasan masuknya sapi jenis lain kepulau Bali.
Asal usul sapi Bali ini adalah Banteng (bossondaicus) yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi selama bertahun-tahun. Proses domestikasi yang cukup lama diduga sebagai penyebab sapi bali lebih kecil dibandingkan dengan banteng. Sapi bali jantan dan sapi bali betina dilahirkan dengan warna bulu merah bata dengan garis hitam di sepanjang punggung yang disebut garis belut. Setelah dewasa, warna sapi jantan berubah menjadi kehitam-hitaman, sedangkan warna sapi betina relatif tetep. Sapi bali tidak berpunuk. Umumnya, keempat kaki dan bagian pantatnya berwarna putih.
Kemampuan reproduksi sapi bali merupakan yang terbaik diantara sapi-sapi lokal. Hal ini disebabkan sapi bali bisa beranak setiap tahun. Dengan manajemen pemeliharaan yang baik, pertambahan berat badan hariannya mencapai 0,7 kg/hari. Keunggulan lainnya adalah sapi bali mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga sering disebut ternak perintis. Karena berbagai perbaikan manajemen pemeliharaan, khususnya di pulau Bali, dilaporkan bahwa dari tahun ketahun telah terjadi peningkatan mutu genestis sapi bali.
b.   Sapi Madura
 Sapi madura merupakan hasil persilangan antara bossondaicus dan bos indicus yang tumbuh dan berkembang di madura sapi sang berpunuk ini terkenal sebagai sapi Jawa Asli dengan warna kuning hingga merah bata. Terkadang terdapat warna putih pada moncong ekor dan kaki bawah. Warna hitam terdapat pada telinga dan bulu ekor. Di  Indonesia, populasinya mencapai 12 % , tetapi penyebarannya tidak semerata sapi bali. Berbeda dengan sapi bali, sapi madura dilaporkan telah mengalami erosi genetis sehingga penampilan produksi yang diukur dari pertambahan berat badannya dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Perkawinan sedarah diperkirakan menjadi penyebab erosi genetis ini. Dibandingkan dengan sapi bali, daya reproduksi dan pertambahan berat badan sapi madura lebih rendah.
Pemeliharaan sapi madura di Pulau Madura merupakan suatu hal yang unik, karena ada sapi jantan yang dipelihara khusus untuk di karapan dalam lomba garapan sapi. Pertumbuhan sapi-sapi ini tidak imbang antara bagian depan karena latihan-latihan yang harus dijalani. Pemberian pakan pun terkesan terlalu berlebihan, terutama pada saat menjelang lomba. Susu, telur, madu, dan bahan lainnya diberikan dengan tujuan untuk memberikan tenaga ekstra bagi sapi tersebut, meskipun secara ilmiah belum dapat dibuktikan kebenarannya.

c.  Sapi Ongole
  Merupakan keturunan sapi zebu dari India. Berwana dominan putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuhnya, bergelambir dibawah leher, dan berpunuk. Sapi ongole diintroduksi oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke 19 untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Sipatnya yang mudah beradaptasi dengan lingkungan setempat menyebabkan sapi ini mampu tumbuh secara murni secara murni di pulau Sumba, sehingga disebut sapi Sumba ongole (SO). Persilangan antara sapi jawa asli (madura) dan sapi ongole secara grading up ( keturunan hasil persilangan dikawinkan kembali dengan sapi ongole) menghasilkan sapi yang disebut peranakan ongole (PO). Penyebaran sapi PO ini hampir merata di pulau Jawa, ciri umum sapi PO adalah posturnya menyerupai sapi ongole. Perbedaannya hanya terletak pada kemampuan produksinya yang sedikit lebih rendah.

d.   Sapi Fries Holstrein (FH)
 Sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasikan susu ini diintroduksi dari negeri Belanda. Warnanya belang hitam dan putih dengan ciri khusus segitiga pada bagian dahi. Sapi yang tidak berpunuk ini memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi, sehingga sapi-sapi jantannya sering dipelihara untuk digemukan dan dijadikan sapi potong. Penyebarannya hampir merata di pulau Jawa, dari Pondokrangon di Jakarta, lembang dan pengalengan di Jawa Barat, Purwekerto dan Byolali di Jawa Tengah, hingga Grati di Jawa Timur dibeberapa daerah juga dilakukan persilangan antara Jawa asli dan sapi FH dengan pola grading up. Keturunannya lajim disebut peranakan fries bolstein ( PFH). Pertambahan berat badan sapi FH jantan bisa mencapai 1,1 kg per hari.

 e.   Brahman
 Sapi brahman berasal dari India yang merupakan keturunan dari sapi zebu (bos indicus) di Amerika Serikat, sapi ini berkembang cukup pesat karena pola pemeliharaan dan sistim perkawinan yang terkontrol, sehingga penampilan beberapa parameter produksinya melebihi produksi di negeri asalnya. Sapi ini diekspor ke Australia dan disilangkan dengan sapi asal eropa. Sisstim pembibitan sapi yang sudah tercatat menyebabkan para produser dan importir bibit dapat menentukan daerah sapi brahman yang di jualnya. Dari Australia inilah didapat sapi-sapi bakalan yang dipelihara untuk digemukan di Indonesia.
Keturunan sapi brahman ini disebut Australian Brahman Cross (ABC) yang biasa dilengkapi sertifikat untuk menunjukan persentase genetis sapi brahman. Meskipun sudah tumbuh dan berkembang di negeri-negeri empat musim, seperti Amerika Serikat dan Austraslia, sapi brahman bersilangan ini mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan tahan gigitan caplak. Pertumbuhan sapi brahman ini sangat cepat. Hal ini yang menyebabkan sapi ini menjadi primadona sapi potong untuk negeri tropis.

f.  Sapi Simental

Sapi Simental adalah bangsa Bos taurus (Talib dan Siregar, 1999), berasal dari daerah Simme di negara Switzerland tetapi sekarang berkembang lebih cepat di benua Eropa dan Amerika, merupakan tipe sapi perah dan pedaging, warna bulu coklat kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor ber warna putih, sapi jantan dewasanya mampu mencapai berat badan 1150 kg sedang betina dewasanya 800 kg (Anonimus, 2002b).
 
g.   Limousin
 Sapi limousin adalah bangsa Bos turus (Talib dan Siregar, 1999), dikembang-kan pertama di Perancis, merupakan tipe sapi pedaging dengan perototan yang lebih baik dari Simmental, warna bulu coklat tua kecuali disekitar ambing berwarna putih serta lutut kebawah dan sekitar mata berwarna lebih muda (Anonimus, 2002b).
 Secara genetik, sapi Simmental atau Limousin adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intakemetabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur (Anonimus, 2002b) ; sedangkan sapi Ongole adalah tipe sedang yang berasal dari daerah beriklim panas, merupakan sapi tipe kecil sampai sedang sehingga dapat dikembangkan pada kondisi tatalaksana pemeliharaan yang ekstensif (Atmadilaga, 1983) (kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan

            Selain dari jenis sapi-sapi tersebut, masih banyak lagi jenis sapi lainnya. Tetapi jenis sapi tersebut di atas adalah bangsa sapi yang umumnya ada di Indonesia.
  
II.   PEMBAHASAN
Dalam pelaksanaan industrialisasi peternakan memerlukan piranti dasar trilogi peternakan (breeding, feeding dan management) yang seiring. Dalam pengertian yang lebih tegas, masalah bibit, pakan, dan sistem pengelolaan harus selalu memenuhi tuntutan pasar.

1.   BREEDING/PEMBIBITAN
Usaha pembibitan sapi potong rakyat sebagai tulang punggung pemasok utama sapi bibit dan bakalan dalam negeri, sebagian besar berdasarkan pada kemampuan induk dalam memproduksi pedet belum mengarah pada kualitas bibit yang dihasilkan; sedangkan bibit yang berasal dari plasma nutfah lokal merupakan salah satu sarana penting dalam pengembangan industri peternakan dan mempunyai peran penting dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas ternak, dalam negeri disamping pakan dan tatalaksana pemeliharaan. Untuk menjamin keberlanjutan mutu bibit sapi potong sesuai dengan harapan konsumen, diperlukan bibit ternak yang bermutu sesuai dengan persyaratan teknis minimal setiap bibit sapi potong. Secara umum stuktur bibit dikelompokkan menjadi 3 yaitu bibit dasar, bibit induk dan bibit sebar.
  • Bibit dasar (Elite/Foundation stock) merupakan kumpulan sapi potong terpilih dari hasil seleksi yang mempunyai nilai pemuliaan (missal tinggi gumba, bobot badan dsb).
  • Bibit induk ( Breeding stock ) merupakan kumpulan sapi potong yang diperoleh dari proses pengembangan bibit dasar dengan spesifikasi tertentu yang mempunyai silsilah, untuk menghasilakn bibit sebar.
  • Bibit sebar ( Commercial stock ) merupakan bibit yang diperoleh dari proses pengembangan bibit induk, dengan spesifikasi tertentu untuk digunakan dalam proses produksi.
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam memilih bibit sapi potong :
a.   Kesesuain warna tubuh dengan bangsanya.
b.   Keserasian bentuk dan ukuran tubuh meliputi kapala, leher dan tubuh ternak.
c.   Ukuran minimal tinggi gumba, mengacu pada standart bibit populasi setempat,dan regional.
d.   Tidak adanya kelainan/cacat tubuh yang dapat menurun.
e.  Sehat ditunjukkan oleh mata yang bersinar, gerakan lincah tetapi tidak liar dan bebas dari penyakit.
 
Kriteria Memilih Bibit Sapi
a.   Sapi Induk 
     1.  Sapi induk harus dapat beranak secara teratur setiap tahun (<14 bulan).
     2.  Turunan anak jantan maupun betina tidak cacat.
     3.  Skor kondisi tubuh sedang yaitu skor 5-7 (skor 1-10).
     4.  Aktivitas reproduksi normal.
b.  Calon Induk
  1. Mempunyai bobot sapih 205 hari dan bobot pada umur 12 bulan di atas rataan.
  2. Bobot badan umur 365 hari di atas rataan.
  3. Penampilan fenotipe sesuai dengan rumpun atau bangsa.
  4. Umur di atas 12 bulan.
  5. Estrus pertama umur 14 bulan sehingga kawin pertama pada umur 18 bulan, pada bobot badan > 230 kg.
c.  Calon Pejantan
  1. Mempunyai catatan bobot sapih 205 hari di atas rataan dan pertambahan bobot badan harian (PBBH) umur 1- 1,5 di atas rataan.
  2. Mempunyai libido dan kualitas sperma baik
2.  FEEDING/PAKAN
Permasalahan yang sering dihadapi dalam budidaya sapi potong adalah keterbatasan dalam penyediaan pakan baik secara kuantitatif, kualitatif maupun kesinambungannya sepanjang tahun. Ransum (pakan) merupakan campuran dari beberapa bahan yang memenuhi persyaratan dan disusun sesuai dengan perhitungan untuk memenuhi kebutuhan ternak. Pakan yang tersusun dari beberapa bahan akan lebih sempurna dari pada satu bahan saja, karena kekurangan zat pakan dari salah satu bahan pakan dapat diisi dari bahan pakan yang lain.
Bahan pakan ternak harus memenuhi paersyaratan :
- Mengandung unsur gizi yang baik
- Mudah didapat dan tersedia sepanjang waktu
- Harganya murah / terjangkau
- Tidak mengandung racun
- Disukai oleh ternak

A.  Identifikasi Bahan Pakan
Bahan pakan sapi potong terdiri dari pakan hijauan, pakan tambahan (konsentrat) dan pakan pelengkap (feed suplement).
a.   Pakan hijauan terdiri dari :
-   Rumput : Rumput Lapangan
-   Rumput Unggul : rumput Raja, rumput Gajah, rumput setaria, rumput Kolonjono, rumput BB (Brachiaria brizanta) dll.
-   Leguminosa (Kacang-kacangan) :
Lamtoro, Glirisidia, Turi,  Calopogonium dll.
-   Hijauan Lain :
    Daun Waru, daun nangka dll.
-   Limbah Pertanian :
Jerami padi, pucuk tebu, rending, jerami jagung dll
b.   Pakan Tambahan (Konsentrat) :
Bekatul, dedak, ampas tahu, ketela pohon, onggok, bungkil kacang dll
c.   Pakan Pelengkap :
Mineral, Vitamin, Urea Molase Block (UMB).
B.   Fungsi pakan bagi ternak antara lain :
a.   Menyediakan energi (tenaga) untuk melangsungkan berbagai proses dalam tubuh.
b.   Menyediakan bahan-bahan untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh yang aus/ rusak.
c.   Mengatur kelestarian proses-proses dalam tubuh.

C.   Kebutuhan Pakan Ternak Sapi
1. Sebagai patokan umum kebutuhan pakan ternak ruminansia adalah sbb :
Pakan hijauan = 10 % dari berat badan
Pakan Konsentrat = 1 – 2 % dari berat badan
2. Menduga berat badan Ternak Ruminansia (Sapi) :
Rumus Schoorl :
W = (L + 22)2
          100
W = berat badan sapi (kg)
 L = lingkar dada sapi (cm)

 3.   MANAJEMEN/TATALAKSANA PEMELIHARAAN
A.   Kandang
a.    Fungsi Kandang :
Kandang merupakan salah satu unsur penting dalam suatu usaha peternakan, terutama dalam penggemukan ternak potong. Bangunan kandang yang baik harus bisa memberikan jaminan hidup yang sehat dan nyaman. Bangunan kandang diupayakan pertama-tama untuk melindungi sapi terhadap gangguan dari luar yang merugikan, baik dari sengatan matahari, kedinginan, kehujanan dan tiupan angin kencang. Selain itu, kandang juga harus bisa menunjang peternak dalam melakukan kegiatannya, baik dari segi ekonomi maupun segi kemudahan dalam pelayanan. Kandang berfungsi sebagai lokasi tempat pemberian pakan dan minum. Dengan adanya kandang, diharapkan sapi tidak berkeliaran di sembarang tempat, mudah dalam pemberian pakan dan kotorannya pun bisa dimanfaatkan seefisien mungkin.
b.   Bahan Kandang
Kandang dapat dibuat dari bahan-bahan yang ada di daerah setempat, dengan harga yang terjangkau tetapi kuat. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk membuat kandang diantaranya bambu, kayu atau beton. Atap kandang dapat dibuat dari genteng, asbes atau alang-alang. Lantai kandang dapat dilapisi dengan karet atau diplester, asalkan lantai rata, tidak licin, tidak mudah menjadi lembab, tahan injakan dan awet.
c.   Konstruksi Kandang
Konstruksi kandang harus dibangun sesuai dengan kondisi alam setempat, sehingga ternak merasa nyaman tinggal di dalam kandang. Konstruksi kandang di daerah yang satu dengan daerah lainnya berbeda, tergantung kondisi alam daerah yang bersangkutan. Namun, secara umum kondisi kandang harus kuat, mudah dibersihkan dan sirkulasi udaranya baik.
d.   Ukuran Kandang
Ukuran kandang individu untuk setiap ternak sapi potong berbeda-beda, tergantung dari jenis ternak yang akan menempati kandang tersebut. Sapi betina dewasa dan anak sapi, masing-masing memerlukan kandang dengan ukuran 1,5 x 2 m per ekor sedangkan sapi jantan dewasa per ekornya memerlukan kandang yang berukuran 1,8 x 2 m. Tinggi kandang sebaiknya tidak lebih dari 2,5 m untuk ternak yang berada di daerah kering dan sedang, sedangkan untuk kandang di daerah dingin tinggi kandang tidak lebih dari 2 m. Luas ventilasi untuk setiap kandang yang ideal adalah tidak kurang dari 40% untuk daerah kering, 20% untuk daerah sedang dan 10% untuk daerah dingin. 
e.   Syarat Kandang
Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kandang untuk sapi potong antara lain dari segi teknis, ekonomis, kesehatan kandang (ventilasi kandang, pembuangan kotoran), efisien pengelolaan dan kesehatan lingkungan sekitarnya.
  •   Pemilihan lokasi.
Beberapa pertimbangan dalam pemilihan lokasi kandang antara lain :
a.  Tersedianya sumber air, terutama untuk minum, memandikan ternak dan membersihkan kandang.
b.   Dekat dengan sumber pakan.
c.   Transportasi mudah, terutama untuk pengadaan pakan dan pemasaran.
d.   Areal yang ada dapat diperluas.
  •  Letak bangunan
a.  Mempunyai permukaan yang lebih tinggi dengan kondisi sekelilingnya, sehingga idak terjadi genangan air dan pembuangan kotoran lebih mudah.
b.   Tidak berdekatan dengan bangunan umum atau perumahan, minimal 10 meter.
c.   Tidak menggangu kesehatan lingkungan
d.   Agak jauh dengan jalan umum
e.   Air limbah tersalur dengan baik
B.  Reproduksi
Keberhasilan usaha pembibitan sapi potong salah satunya ditentukan oleh keberhasilan reproduksi. Apabila pengelolaan reproduksi ternak dilakukan dengan tepat maka akan menghasilkan kinerja reproduksi yang baik yaitu peningkatan angka kebuntingan dan jumlah kelahiran pedet. Akan tetapi, masalah yang masih sering dijumpai pada usaha peternakan rakyat hingga saat ini adalah kinerja reproduksi yang masih rendah ditandai dengan masih terjadi kawin berulang (S/C > 2) dan rendahnya angka kebuntingan (CR 16 bulan) serta berdampak terhadap rendahnya perkembangan populasi sapi dan pendapatan petani dari usahaternak. Oleh karena itu untuk meningkatkan kinerja reproduksi ternak diperlukan manajemen reproduksi yang tepat antara lain :
1)  pengamatan birahi dan waktu kawin,
2)  pola perkawinan yang tepat,
3)  deteksi kebuntingan, dan
4)  penanganan kelahiran.
Melalui usaha tersebut diharapkan jumlah kelahiran pedet dan jumlah induk yang berkualitas meningkat yang akhirnya berdampak pada meningkatnya pendapatan petani dari usaha pembibitan sapi potong.
Pengamatan Birahi & Waktu Kawin
Pengamatan birahi dilakukan pada setiap ekor induk sapi. Pengamatan dapat dilakukan setiap hari pada waktu pagi dan sore hari dengan melihat gejala birahi secara langsung. Gejala atau tanda-tanda sapi betina birahi adalah:
1) gelisah dan terlihat sangat tidak tenang,
2) sering melenguh-lenguh,
3) mencoba menaiki sapi lain dan akan tetap diam apabila dinaiki sapi lain,
4) pangkal ekornya terangkat sedikit dan keluar lendir jernih transparan yg mengalir melalui  vagina dan vulva,
5) vulva membengkak dan berwarna kemerah-merahan, dan
6) sapi menjadi diam dan nafsu makan berkurang.
Birahi berlangsung sekitar 18 jam dengan siklus rata-rata 21 hari.  Pengamatan birahimerupakan faktor yang paling penting , karena jika gejala birahi telah terlihat maka waktu perkawinan yang tepat dapat ditentukan. Waktu yang paling tepat untuk mengawinkan ternak adalah sembilan jam sejak ternak menujukan tanda birahi.

Pola Perkawinan
Perkawinan pada sapi potong dapat dilakukan secara alami maupun kawin suntik atau inseminasi buatan (IB). Perkawinan alami merupakan perkawinan dengan cara mempertemukan pejantan dan induk secara langsung. Pola perkawinan secara alami ini memiliki empat manajemen perkawinan, yaitu:
1) perkawinan model kandang individu,
2) perkawinan model kandang kelompok/umbaran,
3) perkawinan model ranch/paddock, dan
4) perkawinan model padang penggembalaan.
Perkawinan melalui kawin suntik atau inseminasi buatan (IB) dilakukan dengan cara memasukkan sperma atau semen yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu ke dalam saluran alat kelamin betina dengan metode dan alat khusus. Teknik IB dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menggunakan semen beku (frozen semen) dan semen cair (chilled semen).
Deteksi Kebuntingan
Tanda-tanda umum terjadinya kebuntingan pada ternak adalah berahi berikutnya tidak timbul lagi, ternak lebih tenang, tidak suka dekat dengan pejantan, dan nafsu makan agak meningkat. Oleh karena itu, untuk mengetahui keberhasilan perkawinan perlu dilakukan pengamatan birahi lagi pada induk setelah 21 hari atau hari ke 18-23 dari perkawinan atau IB. siklus (42 hari) berikutnya, kemungkinan induk telah bunting.  Deteksi kebuntingan dapat dilakukan dengan cara palpasi rektal setelah 60 hari sejak dikawinkan untuk meyakinkan bahwa ternak benar-benar bunting. Pemeriksaan palpasi rektal dilakukan oleh Petugas Pemeriksa Kebuntingan (PKB).
Kelahiran
Kebuntingan pada sapi terjadi selama 275-285 hari dengan rata-rata 280 hari. Induk yang akan melahirkan menunjukkan tandatanda seperti: vulva membengkak dan warna kemerahan, pinggul terasa lebih lentur, puting mulai membengkak dan sedikit meneteskan air susu, dan vulva akan mengeluarkan lendir saat mendekati kelahiran.
Beberapa persiapan yang perlu dilakukan apabila sapi memperlihatkan gejala-gejala akan melahirkan adalah:
a) pembersihan kandang untuk memudahkan pergerakan induk sebelum atau pada saat proses melahirkan,
b) lantai kandang diberi alas, berupa jerami padi kering sebagai alas agar cairan yang keluar selama proses kelahiran dapat terserap dengan cepat, dan
c) sediakan obat-obatan untuk mengantisipasi keadaan yang darurat.
Secara umum proses kelahiran akan terjadi maksimal 8 jam, apabila melebihi waktu tersebut pedet belum juga keluar maka sebaiknya segera laporkan kepada Petugas Peternakan setempat.
C.  Kesehatan Ternak
Kesehatan hewan merupakan suatu status kondisi tubuh hewan dengan seluruh sel yang menyusunnya dan cairan tubuh yang dikandungnya secara fisiologis berfungsi normal. Ciri ciri sapi yang kondisi tubuhnya sehat adalah : a). aktif, sigap dan sadar terhadap perubahan situasu disekitarnya; b). kondisi tubuh seimbang/tidak sempoyongan, langkah kaki mantap dan teratur yang bertumpu pada keempat kakinya dan posisi punggung rata; c). mata bersinar, sudut mata bersih, tidak ada perubahan pada kornea mata; d). kulit, bulu halus mengkilap, tidak kusam dan pertumbuhannya rata; e). frekuensi napas teratur kurang lebih 20 – 30 kali/menit, halus dan tidak tersengal sengal; f). Denyut nadi (50-60 kali/menit), irama teratur dan nada tetap. Agar ternak sapi tersebut memiliki kondisi tubuh yang sehat, perlu dilakukan menjaga lingkungan dengan melalukan pencegahan dan pengobatan penyakit.
Penyakit yang sering muncul pada ternak sapi potong dapat dikelompokan dalam 3 kelompok besar, yaitu penyakit yang menyerang pencernaan, penyakit yang menyerang kulit dan penyakit yang menyerang reproduksi.
1.   Rumen Sarat/Konstipasi (sembelit)
PENYEBABNYA :
Perubahan pakan secara mendadak, pakan serat kasar, kurang minum, kelelahan, suhu tinggi karena infeksi

GEJALA :
Sapi ambruk/passif, perut membesar, hiversalivasi, dehidrasi, eksp. Rectal, feses mengeras, napas cepat.
TERAPI :
o     Purgativa (Magnesium sulfat).
o     Pakan diberi hijauan dan air minum
o     Pola peternak: minuman kopi, kencur, jahe, garam inggris.

2.   Bloat/Kembung
PENYEBABNYA :
Faktor pakan (tan. muda, leguminosa, konsentrat terlalu tinggi, urea tinggi) & faktor hewan (kepekaan hewan/genetik)
GEJALA :
Perut menggelembung, intake makan & minum menurun, sapi pasif/ambruk, nafas cepat & dangkal.
TERAPI :
o    Antibloat (dimeticone)
o    Minyak goreng (oral)
o    Vitamin (supportif)
o    Trokar
3.   Diare
PENYEBABNYA :
Bakteri (salmonella, clostridium, E coli), virus (rota/corona, BVD, parvo virus), Protozoa, Parasit
GEJALA :
Tinja banyak & encer, anus kotor, dehidrasi, kelemahan dan kematian.
TERAPI :
o   Disesuaikan dengan penyebabnya
o   Penggantian cairan tubuh.
o   Pemberian antibiotik (bakteri/virus)
o   Pemberian Vitamin (supportif)
4.   Cacingan
PENYEBABNYA : Cacing gilig, cacing pita & cacing pipih
GEJALA :
Lemah, kurus, bulu kusam, diare (campur darah), kelemahan, pertumbuhan lambat, dapat menyebabkan kematian.
TERAPI :
o     Pemberian obat cacing dan ulangannya (Albendazole, Piperazine).
o     Sanitasi & kebersihan (pakan, minum, kandang & lingkungannya).
o     Minimalisir siput
5.   Cascado
PENYEBABNYA : Cacing jenis Stephanofilaria SP
GEJALA :
kropeng di kulit (biasanya di sudut mata), abses (infeksi), sapi gelisah (gatal), intake pakan & minum turun.
TERAPI :
o    Salep asuntol
o    Ivermectin (injeksi/ salf), gusanex
o    Pemberantasan lalat (insektisida/ sanitasi & kebersihan kandang)
6.   Myasis (Borok)
PENYEBABNYA : Chrysomya bezziana
GEJALA :
luka dengan infestasi belatung, jar. mengalami kematian (nekrosis), peradangan/abses di sekitar luka.
TERAPI :
o     Bersihkan luka dengan antiseptik (PK)
o     Salf (vaselin, antibiotik, gusanex)
o     Injeksi antibiotik sistemik.


7.      Scabies/Acariasis/Kudis
PENYEBABNYA : Sarcoptes SP
GEJALA : Lesi & keropeng di kulit, gatal, kulit menebal, bulu rontok & hewan gelisah.
TERAPI
o     Ivermectin (injeksi/ salf), gusanex
o     Dimandikan dengan sabun colek
o     Pemberantasan lalat (insektisida/ sanitasi & kebersihan kandang)



Sumber :

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat. 2010. Petunjuk Teknis Pembibitan Sapi Potong. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Bandung.

Puslitbangnak. 2007. Petunjuk Teknis Manajemen Perkawinan Sapi Potong. Badan Litbang Pertanian, Bogor 

Rianto, E dan Purbowati. 2009. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta

Saragih, B.  2000.  Agribisnis Berbasis Peternakan.  Pustaka Wirausaha Muda. Bogor.